← Semua Ilmu & Kabar SAJATI
Artikel

Wajibnya bershalawat & Mengupas Polemik Ijazah Wirid, Hizib, Do'a

08 Sep 2026 · oleh Admin Pusat · 35 kali dilihat

Wajibnya bershalawat & Mengupas Polemik Ijazah Wirid, Hizib, Do'a


Menarik sekali apa yang diulas oleh syaikh Ahmad bin Muhammad as-Shawi al-Khalwati di Hasiyah as-Shawi alaa Tafsir al-Jalalain miliknya. Di kala beliau mengupas ayat:


{ إِنَّ ٱللَّهَ وَمَلَـٰۤىِٕكَتَهُۥ یُصَلُّونَ عَلَى ٱلنَّبِیِّۚ یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوا۟ صَلُّوا۟ عَلَیۡهِ وَسَلِّمُوا۟ تَسۡلِیمًا } [سُورَةُ الأَحۡزَابِ: ٥٦]


"Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya".


Maka terang benderang jelasnya kita manusia diperintah secara langsung untuk bershalawat kepada kanjeng nabi, karena bahkan Allah dan para malaikat pun tidak sungkan bersholawat kepada beliau dengan "versinya" sendiri.


Diantara hikmah bershalawat itu sendiri ketika bermuara dari kita mukminin dan para malaikat (makhluk), tidak lain guna menampakan sikap pengagungan kita kepada nabi dan membalas sebagian hak-hak beliau yang kita tiada daya untuk memenuhinya.


Emang ada hak nabi?

Tentu saja, sebab beliau adalah "perantara paling agung" untuk setiap butir nikmat yang sampai kepada makhluk. Dan barang sepatutnya seorang berbalas budi pada yang lain atas segala kebaikan yang sampai pada dirinya tersebut. Singkat kata bershalawat itu ialah bentuk balas budi kita kepada yang mulia kanjeng nabi Muhammad saw.


Timbul pertanyaan, bukankah Allah swt senantiasa bershalawat (mencurahkan rahmat) kepada beliau secara mutlak (meskipun tidak diminta oleh makhluk), lalu apa fungsi shalawat?


Jawab syaikh as-Shawi:


بأن الخلق لما كانوا عاجزين عن مكافأته صلى الله عليه وسلم؛ طلبوا من القادر المالك أن يكافئه.


Masudnya sebab tatkala makhluk tak sanggup untuk berbalas kebaikan nabi saw, maka dengan segala kealpaan mereka pun memohon kepada sang Pencipta yang maha memiliki agar kiranya membalaskankan budi beliau dengan sebaik-baiknya balasan.

Tidak diragukan, bahwa rahmat yang sampai kepada beliau itu memang tiada terputus dari Allah juga tidak ada batas-batasnya, tapi tatkala dimohonkan oleh makhluk, maka seketika rahmat tadi pun tambah meruah dan melimpah dan bersifat abadi dengan abadinya dzat Allah swt. Itulah shalawat, kesempurnaan yang terus bertambah sempurna.


Dengan adanya nash ayat, para ulama sepakat bahwa kita wajib bershalawat dan salam kepada kanjeng nabi Muhammad saw.


Tapi kapan dan berapa banyak jumlah shalawat yang wajib tersebut???


Pada titik ini (seperti biasanya) para ulama pun bersilang pendapat.

Menurut imam Malik, kewajiban shalawat dan salam itu hanya seumur hidup satu kali.
Menurut imam Syafi'i, wajib hukumnya selalu di kala tasyahud akhir pada setiap shalat fardlu.
Sedangkan menurut yang lain (قيل) , juga terdapat beberapa pandangan :
  1. wajib dibaca hanya satu kali saja untuk setiap majelis,
  2. Qila lain, wajib dibaca setiap kali disebut nama beliau
  3. Wajib memperbanyak bacanya tanpa terikat dengan bilangan tertentu.


Secara global, pokoknya bershalawat kepada nabi adalah sesuatu yang teramat dahsyat, keutamaannya begitu besar. Termasuk bentuk ketaatan yang paling afdlal, dan cara mendekakan diri kepada Allah swt yang paling agung. Sampai-sampai sebagian para ahli makrifat mengatakan:


إنها توصل إلى الله تعالى من غير شيخ.


"Sesungguhnya bershalawat itu dapat menyampaikan (wushul) kita kepada Allah swt tanpa perlu ada guru".


Jadi jangan takut bershalawat!. Kalau ada sighat shalawat yang disukai, entah karena maknanya yang dalam, diksinya yang indah, atau karena terasa adanya getaran hati saat membaca shalawat tsb, ya baca saja! Meskipun belum dapat ijazahnya!.


Bahkan sayyid Abdurrahman bin Musthafa al-Idrus mengatakan di kitabnya Miraatu al-syumus fi manaqibt Aali Idrus:

"bahwa di akhir zaman nanti, ketika sudah tidak ditemukan seorang murobbi (mursyid) yang memenuhi syarat, tidak ada satupun amalan yang bisa mengantarkan seseorang wushul (ma'rifat) kepada Allah kecuali bacaan sholawat kepada Nabi saw".


Pekan lalu saya mendapat telpon dari seorang ustadz di tanah air, beliau bermaksud ingin mengamalkan wirid kitab dalailul khairat (kumpulan shalawat nabi yang disusun oleh syaikh Sulaiman al-Jazuli). Tapi katanya beliau belum punya ijazah itu, apa boleh?


Jelas aku jawab boleh!, tapi meski begitu bukan artinya tidak penting, sebab dengan adanya ijazah kamu akan mendapat sebuah sirr (rahasia) tertentu yang mungkin tidak kamu dapat bila dibaca tanpa ada ijazah. Disana terdapat "bonus" keberkahan, adanya silsilah cahaya yang bersambung. Bahkan khusus untuk kitab dalail ini para masyayikh mengatakan baiknya mendapat ijazah sekaligus dari tujuh guru.


Aku sendiri punya beberapa sanad kitab dalail, yang salah satunya ada yang bersambung ke musnid ad-dunya syaikh Yasin al-Fadani rahimahullah. Alhamdulillah izin Allah kemarin bisa berziarah ke maqbarah beliau di pemakaman Ma'la Mekkah al-Mukarramah. Tambah senang lagi aku pun bisa sowan kepada kyai Abdi Djohan dan berbincang hangat dengan beliau selaku murid dari syaikh Ahmad Marwazie yakni santri sekaligus khadim langsung dari sang musnid. Semoga kedepan saya pun bisa bertemu dan istifadah langsung kepada Syaikh marwazie. Amin.


Untuk melengkapi faidah, syaikh 'Ali Jum'ah salah satu kibar ulama Mesir saat ini, beliau pernah ditanya tentang hukum membaca dzikir, wirid, hizib khusus para masyayikh tanpa ada izin, apa dibolehkan?


Beliau menjawab, jelas boleh!, hanya saja bila tanpa itu jelas atsarnya (efeknya) akan berbeda dengan seorang yang membaca setelah mendapat izin.


Bisa di simak videonya disini:

https://youtu.be/_-tFS3BC4FE?si=98DO9OzAuL47ai1v


Oiya, beberapa waktu lalu aku saat sowan ke Dr. Syaikh. Muhammad Taufiq Ramadhan al-Buthi (putra asy-Syahid Syaikh Ramadhan Buthi ad-Dimasyqi) di kediaman beliau, seperti adat santri-santri nusantara pada umumnya, aku coba minta ijazah do'a futuh ilmu kepada beliau. Ternyata spontan sambil tersenyum beliau jawab, hehe kalau soal doa gak perlu ijazah-ijazah, ijazahnya langsung dari Allah. Beliaupun mengutip ayat ini:


{ وَقَالَ رَبُّكُمُ ٱدۡعُونِیۤ أَسۡتَجِبۡ لَكُمۡۚ ... } [سُورَةُ غَافِرٍ: ٦٠]


Lanjut beliau, tengadahkan saja dua tanganmu terus bilang ya Allah mudahkan saya dalam mencari ilmu dst


Begitu lebih kurang pemahaman ku sampai hari ini, ya soal doa-doa atau dzikir tidak usah terlalu di dramatisir sampai takut gila dsb gara-gara tidak ada ijazah, apalagi kalau bentuknya tadi semacam shalawat.


Sependek pengamatan ku orang-orang yang kena saraf yang katanya gara-gara wirid, itu mereka saja yang motif wiridnya pengen bisa terbang di awang-awang, berjalan di atas air, shalat di atas pohon pisang, tubuh menghilang dan banyak aneh-aneh lainnya. Kalo begitu sih sebelum dia wirid pun sudah hampir gila duluan, karna wiridnya ya bukan karena Allah. Ditambah lagi kalau ilmu syariatnya belum mapan, akhirnya dimainin bangsa jin. Ujung-ujungnya ngaku di datengin wali songo, syaikh abdul qadir al-jailani para nabi para rasul sak pirang-pirang, padahal shalat fardlunya aja masih sering bolong-bolong atau minimal kesiangan, lebih parah lagi sampai kalo ngerasa maqam udah nyundul langit akhirnya sengaja tidak shalat. Duh gusti aya-aya wae!.


21-09-24

Al-Mu'alla, Makkah


_____


Oleh:

Agus Sholah